Kamis, 09 Juli 2009

Ucapan Terima Kasih Ketua Padepokan

UCAPAN TERIMA KASIH.

Kami panjatkan rasa syukur kami kepada sang pemilik alam ini, atas berkat rahmat dan ridhoNYA, kami dapat mendeklarasikan PADEPOKAN INCU BANTEN kira-kira satu tahun yang lalu dengan apa adanya tanpa mengurangi kemeriahan dari nilai-nilai budaya itu sendiri, sehingga kami dapat pula menindaklanjutinya kedalam WebBLOG kami semata-mata hanya ingin menjalin rasa persaudaraan, rasa kekeluargaan, berbagi rasa, untuk seluruh warga yang ada di Negara tercinta Negara Kesatuan Republik Indonesia ini.

Saya, Ajat Sudrajat 30 tahun, selaku Ketua Padepokan INCU BANTEN menghaturkan ucapan terimakasih yang sedalam-dalamnya kepada seluruh saudara-saudara saya yang tidak dapat disebutkan satu persatu. Dan khususnya kepada adinda saya Tubagus Alam Nirmala yang sudah dan terus berusaha menjalin persatuan dan kesatuan demi membesarkan Padepokan ini, karena memang Padepokan ini harus dibesarkan demi untuk menjaga agar terus dapat berlanjut menjalankan program-program kegiatan Padepokan ini, diantaranya :

Pembinaan mental spiritual generasi muda (dalam hal ini adik-adik kita yang masih duduk dibangku sekolah SLTP maupun SLTA),
Pengajian Rutin, diskusi ringan ritual spiritual,
Menghidupkan dan melanjutkan kembali seni tradisi budaya khususnya di daerah Cilegon Banten,
Pengobatan, melalui terapi khusus,
Menjalin bentuk kerjasama dengan Organisasi-organisasi,
Pengobatan (terapi penyembuhan dari ketergantungan Narkoba atau sejenisnya),
Pengembangan Pemberdayaan Usaha Kecil, Dll.

Terima Kasih
Salam,


AJAT SUDRAJAT
Ketua Padepokan
087778573882

e-mail.: padepokanincu@yahoo.co.id
Jl. KH. Abdul Latif. Kp Palas Bendungan 01/01 Gang.Kosambi
42417 Cilegon Banten

Demak-Pajang-Mataram (1)

SEKILAS INFORMASI SEJARAH
( Demak - Pajang - Mataram - Ujung Kulon - Pajajaran )


DEMAK
Masa sebelum sultan Trenggono (Jawa bagian timur).
Dengan Panglima Perang nya : FATAHILLAH (saudara ipar Sultan Demak)

Kesultanan Demak di dirikan sekitar tahun 1500 M oleh Raden Fatah (Pangeran Jinbun) putra Prabu Brawijaya (Raja Majapahit terakhir dari seorang selir).

Tahun, 1478 Masehi, terjadi penyerbuan Kerajaan Kediri atas Majapahit, Prabu Brawijaya gugur dibunuh oleh Senopati Udara (Patih dari Kediri). Dengan demikian Raja Kediri Prabu Giri Indra Wardhana mengambil alih kekuasaan Majapahit.

Tapi pada
Tahun, 1498 Masehi, Prabu Giri Indra Warhana dibunuh pula oleh Senopati Udara dalam satu pemberontakan. Dan Patih Udara mengangkat dirinya menjadi Raja Majapahit dengan gelar Prabu Udara (Hamka, 1976 : 153)

Melihat keadaan ini Raden Fatah mengembangkan daerahnya BINTORO dengan para santri-santrinya.

Raja-raja pesisir tidak setuju dengan pemerintahan yang tidak sah (yang dipimpin Prabu Udara / Senopati Udara) atas Majapahit itu. Mereka lebih menyukai Raden Fatah sebagai anak keturunan Raja Majapahit.

Tahun, 1512 Masehi, Prabu Udara mengutus dari Majapahit ke Malaka (kekuasaan Portugis) untuk mengadakan kerjasama.

Tahun, 1517 Masehi, Mengadakan serangan besar-besaran ke Majapahit, akhirnya Majapahit dapat dikalahkan. Prabu Udara dan pengikutnya melarikan diri ke Bali – Pasuruan dan Blambangan. Semua barang kebesaran Majapahit dipindahkan ke Bintoro Ibukota Kesultanan Demak.

Pada masa Raden Fatah di Pulau Jawa hanya ada 2 (dua) kerajaan Hindu, yaitu :
1. Pajajaran di Jawa Barat
2. Kerajaan Blambangan di Pasuruan.

Raden Fatah (1500 M – 1518 M)
Mempunyai putra 3 (tiga) :
1. Pangeran Muhammad Yunus (1518 M – 1521 M)
2. Pangeran Sekar Seda Lepen
3. Pangeran Trenggono (1521 M – 1546 M)

Pangeran Muhammad Yunus di angkat menjadi Patih Demak (Paih Unus / Pangeran Sabrang Lor).

Tahun, 1518 Masehi, Raden Fatah wafat, dan digantikan oleh putranya Patih Unus/Pangeran Muhammad Yunus.

Tahun, 1521 Masehi, Pangeran Muhammad Yunus (Patih Unus) wafat dan tidak mempunyai putra. Pada masa ini kedua adiknya Pangeran Seda Lepen dan Pangeran Trenggono sama-sama ingin menjadi Sultan. Tapi Pangeran Seda Lepen dibunuh oleh anak sulung Pangeran Trenggono, akhirnya,
Tahun, 1521 Masehi s.d 1546 Masehi, Pangeran Trenggono di angkat jadi Sultan Demak dengan gelar Sultan Trenggono, pada saat itu yang menjadi Panglima Perang Sultan Trenggono adalah Fatahillah (Hamka, 1976 : 158-160)

Tahun, 1526 Masehi, diperintahkan Fatahillah untuk merebut Banten dari Pajajaran. Pergilah Fatahillah ke Cirebon dulu beserta 2000 pasukan untuk mendengarkan nasehat dari Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati) sebelum menyerbu ke Pajajaran.

Karena memang sedang terjadi kerusuhan pemberontakan yang dipelopori oleh :
Pangeran Sabakingking atau Pangeran Hasanudin (Purwaka, 23)

Tahun, 1546 Masehi, Pasukan Demak dengan Bantuan Cirebon dan Banten menyerang Pasuruan, Panarukan dan Supit Urang yang merupakan daerah-daerah penting Kerajaan Hindu-Blambangan.
Pasukan Demak mengirimkan 7000 prajurit pilihan yang dipimpin langsung oleh Fatahillah (usianya 70 tahun hingga wafat) ke tiga daerah :
1. Pasuruan
2. Panarukan
3. Supit dan Urang, ketiga daerah ini dapat dikuasai.
Tetapi Sultan Trenggono gugur.

Kemudian tahta Kesultanan Demak (1546 M – 1547 M) dipegang oleh Sunan Prawoto / Pangeran Mu’min putra dari Sultan Trenggono. Tetapi baru 1 (satu) tahun menampuk kepemimpinan Sunan Prawoto dibunuh oleh misannya : Arya Penangsang (putra dari Pangeran Seda Lepen) dengan motif dendam.

Sunan Prawoto, mempunyai putra bernama Pangeran Arya Pangiri, ini pun akan dibunuhnya oleh Arya Penangsang, tapi dapat meloloskan diri dan berlindung kepada Pangeran Hadiri (adipati Kalinyamat), yang pada akhirnya Pangeran Hadiri dibunuh oleh upahan Arya Penangsang (Hamka. 1976 : 163; Berg : 1952 : 390)

Perang Saudara yang bermula dari perebutan kekuasaan di Demak ini berlangsung kira-kira 21 tahun lamanya (1547 Masehi s.d 1568 Masehi)

Tahun, 1568 Masehi, Banten lepas dari Demak. Sultan Hasanudin sebagai Sultan pertamanya.

Perang baru berakhir setelah Jaka Tingkir (sebagai menantu Sultan Trenggono) dapat membunuh Arya Penangsang dalam satu pertempuran sengit. Jaka Tingkir dinobatkan menjadi Penguasa di Demak dengan gelar Sultan Adiwijoyo.
Pusat Pemerintahan dipindahkan ke PAJANG (1568 Masehi s.d 1586 Masehi), Jaka Tingkir memerintah selama kurang lebih 16 tahun.
Sedangkan Demak dijadikan Kadipaten dengan Bupatinya Pangeran Arya Pangiri.
Jaka Tingkir atau Sultan Adiwijoyo tewas dalam pertempuran melawan pasukan MATARAM yang dipimpin oleh Sutawijoyo.


PAJANG - MATARAM
Jaka Tingkir atau Sultan Adiwijoyo dinobatkan menjadi Penguasa di Demak (1568 Masehi s.d 1586 Masehi) kurang lebih 16 tahun memerintah Demak dengan Pusat Pemerintahan di PAJANG.

Catatan :
Kepada seluruh saudara di bumi nusantara ini, dalam hal ini Padepokan INCU BANTEN tidak memiliki sumber informasi sejarah tentang Kerajaan PAJANG dan Kerajaan MATARAM. Dimohon dengan sangat kepada saudara saudara jika ada yang memiliki baik ringkasannya sekalipun dimohon dengan sangat menghubungi alamat WebBLOG ini : http://padepokanincu.blogspot.com
e-mail.: padepokanincu@yahoo.co.id

Ujung Kulon (2)

UJUNG KULON Sastra Ujung Kulon


Prasasti Ujung Kulon
(Ti Pupuhu Nu Sejati) sumber : SANGATEN

1. Ujar-ujar panglungguhan para susuhunan
Jajar pusaka titis waris karatuan
Udagan para kusumah nyampurnakeun badan
Nyandak waris pituduh, ti Bumi Suci Banyu Rasa Kahuripan
Geusan pibekeleun para satria ngaguar cumarita sangaten

2. Kinayungan nu mawa pangadegan wahyu Cakra Ningrat
Utusan ti Pajajaran nu pasti, sanes ti Kalinyamat
Lumungsurna teu mawa jimat, tapi mibanda syahadat
Olohok lain kabengbat kunu jadi, tapi inget ka riwayat
Nalika jaman nu parantos kaliwat

3. Umbul-umbul siloka tanjung bandera
Jadi tanda pikeun balarea nu aya
Ulah pada baburia, hijikeun tekad bangsa
Nincak kana hambalan, napak dina jalanna
Gumelar dina waktuna, cumarita dina hakna

4. Kikidung nu mawa beja, warisan ti pupuhu
Ulah rek di popoho, lamun rek pada ngagugu
Lumaku lalanang jagat, lai oge dikudu-kudu
Olahan nu mikahayang, teu surti kapara guru
Nurutkeun bae kahayang, ahirna kakurung nafsu

5. Ujung Kulon waris nu pasti, panglungguhan SANGHYANG SIRAH
Jumeneng alas mawangi, titis waris Eyang Kudratullah
Ulah poho kanu pasti, waris suci ti para kusumah
Nitih wanci nu mustari, ngadegkeun amanah prasasti sejarah
Gumelar wangsit nu pasti, ngalaksanakeun pancen amanah

6. Kakayaan waris ti gusti, pikeun ngeusi jati diri
Ujian pikeun diri, ngawujudkeun ngawangun nagri
Lumaku ulah ka lali-lali, komo bari ngaku-ngaku diri
Omongan bari teu pasti, nyasarkeun kanu rek ngabdi
Nu mana nu sejati pasti, nu nyiloka ngaraksa diri



Kidung Eyang Santang (1 s.d 14)
Penggalan :
Buru-buru geura anu pundung
Ratu maung teu terang ratu
Anu ditundung ditempat ratu
Anu mangperung leungitna ratu
Anu mangperung susah payah
Putra anu bingung ………………………………

Sahadat Ujung Kulon (pernyataan/statement/janji)
Penggalan :
Ashadu sahadat ujung kulon
Pambuka ratu sakti
Ngancik suci yang mulia
Panggebray ratu ning ujung nyata
Suci kami manungsa darma titipan ……………….

Kidung Banyu Suara (1 s.d 24)
(diturunkeun di Sawojajar Bogor Tahun Alip Tanggal 13 Mulud 1970)
Penggalan :
Banyu suci anu gumelar
Banyu suci tungtung hiji
Banyu ratu cahaya suci
Nu ngawujud di bumi
Alam Sanghyang Sirah aya wujudna
Nyata manusa katembongna ………………………..

Sejarah Rama Agung Pajajaran (1 s.d 25)
Penggalan :
Jumeneng di Ujung Kulon
Gaduh Jenengan Ratu Agung Pangeran Sirna Putih
Di Ujung Kulan di sirah nusa
Nyawa kawitan nana
Sareng Ibu Agung Sanghyang Sirah

Wangsit Prabu Siliwangi (1 s.d 18)
Penggalan :
Lalakon urang ngan nepi poe iyeu
Najan diya kabehan ka ngaing pada satia
Tapi ngaing hanteu meunang diya pipilueun
Milu hirup jadi balangsak
Milu rudin bari lapar
Dia mudu marilih
Pikeun hirup kahareupna
Supaya engke jagana jembar senang sugih mukti
Bisa ngadegkeun deui Pajajaran
Lain Pajajaran nu kiwari
Tapi Pajajaran anu anyar
Anu ngadegna digeuingkeun ku obah jaman

Pilih!!
Ngaing moal ngahalang-halang
Sabab pikeun ngaing hanteu pantes jadi Raja lamun soma sakabehna
Lapar bae jeung balangsak
Terjemahan
Pilih!
Saya tidak menghalang halangi
Sebab buat saya tidak pantas menjadi Raja kalau umat semua
Selalu lapar dan susah

Kidung Ujung Kulon (1 s.d 32)
Penggalan :
Uwung uwung awing awing
Bumi leungit keur gumulung
Dilebet rasiah gumulung
Muhammad jadi kukuncung

Kukuncung nyatana tungtung
Sanes bukti jadi maung
Tapi bukti terang
Kukuncung putih anu nulung
……
Ujung Kulon rahasiah Muhammad
Jadi manusa Muhammad
Tepi ka ratu ujung Muhammad
Jadi kulon abdi Muhammad
……
Sanghyang Sirah Muhammad
Sirah eling raga Muhammad
Leungeun welasna raga Muhammad

Pajajaran (3)

PADJADJARAN
Prasasti Batu Tulis :
Benteng Pakwan 1455 saka

Wangna pun ieu saka kala
Prabu Ratu Purane … Pun … Diwastu
Diya wingaran (dingaran) Prabu Guru Dewata Prana
Diwastu diya wingaran (dingaran)
Sri Baduga Maharaja Ratu Haji Di Pakwan Pajajaran
Sri Sang Ratu Dewata … Pun … Ya nu nyusuk na Pakwan
Diya anak Rahyang Dewa Niskala Sang Sidamokta di Gunatiga
Incu Rahyang Niskala Wastu Kancana Sang Sidamokta
Ka Nusa Larang ya siya nu nyinyan sasaka
La gugunungan ngabalay nyinyan samida
Nyinyan Sanghyang Talaga Rena Mahawijaya
Ya Siya Pin I Saka, Panca Pandawa Bumi

Mugia salamet ieu tanda paringetan keur (ti tingal ti)
Prabu Ratu Suwargi
Inyana di istrenan kalawan inyana nu nyieun susukan (pari)
Di Pakwan inyana anak Rahyang Dewa Niskala
Nu di kurebkeun di Nusa Larang
Inyana nu nyieun paringetan (mangrupa)
Gugunungan, ngawangun jalan nu di balay ku batu
Nyieun samida, nyieun Sanghyang Talaga Rena Mahawijaya
Nya inyana (nu nyieun eta sakabeh)
(di jieun) dina (taun) saka 1455

Benteng Pakwan
Nu di jieun ku Sri Baduga Maharaja…….

BADUY/RAWAYAN (4)

Sumber : Sejarah dan Tradisi Prabu Siliwangi
Kolonel Djadja Suparman, Bandung 1988.
Deden Sulaeman (putra dari Kolonel djadja Suparman), Bandung 2004


Apakah masyarakat Baduy pernah berhubungan dengan Raja Pajajaran Sili(h)wangi itu ……
Entah dalam bentuk persekutuan, entah dalam bentuk perhambaan …?

Dalam Naskah Cariosan Prabu Siliwangi di ceritakan bahwa Siliwangi mengadakan hubungan persekutuan dengan 7 (tujuh) Raja :
1. Raja Ponggang
2. Raja Singapura (Cirebon)
3. Sumedang
4. Kawali
5. Panjalu
6. Pekalongan
7. Blambangan

Nama Sultan Banten tidak disebut
Tentang pendirian Kerajaan Pajajaran Periode 1133 dan 1533

Bagaimana pandangan orang Baduy tentang diri nereka sendiri, atau dimana mereka menempatkan diri di alam semesta …?

Dari Jaro Sarpin :
Bulan Kawalu, Bulan Karuhun, Wang Tua Urang, Para Dalem Parabu Siliwangi asup jadi urang Pakwan nyaeta MAUNG

Dipenta ku Jaro Kasalametan :
Bisa ngarengkakeun jelema, Manehna ngarengkakeun jelema, Ngajagi – Ngaraksa Umat-umat na

Jaro lamun puasa :
Titipan urang Pakuan, Di urus dina bulan kawalu ditanggal 18 (delapanbelas), Hayang Cunduk, Cimarang Aturan, Cimarang Maca, Jaja Kertana, Anak Umat-umat, Anak Putu-putu sakabeh, Anak putu Kanjeng Nabi Muhammad, Sakabeh bangsa Cina, Balanda, Supaya Jaja Kertana, Salamet dirina, Jaja Perangna, Parek Rejekina.

Pernyataan tadi disebut :
Ngukus Ratu Nyaja Menak, Dina waktu sakitu tah tili bulan di urus, Ditutup sina bulan Silih Haji, Bulan katiga tanggal 27 (dua puluh tujuh) Bontot Kamancing

Garis besar dari Self Identification orang Baduy :
Dunia terbagi 2 (dua) bagian :
1. Masyarakat Baduy yang sacral (bagian yang sakral)
2. Masyarakat Non Baduy (bagian profan)
Dalam tradisi disebut :
Pulau Banten, Nagara Telung Puluh, Salawe Panca Nagara, Sakolong Salangit, Satangkarak Lemah

Dari Sejarah ……
Pajajaran pernah menguasai Banten Utara (tidak diketahui tahunnya)
Tahun, 1526 Masehi, Demak sudah berkuasa di Banten Utara.

Jadi ……
Orang Baduy mengetahui nama :
Pakwan (Pakuan), Pajajaran, dan, Siliwangi

Nama-nama ini dimasukkan kedalam MITE (tangtu Tilu anu Ngurusan, Jaro Dampa anu Napa-an)

Tradisi Ki Yasin Jaro Dangka :
Tina mimitina alam dunya aya jelema ngan PUUN, sakureun dua, BIKANG jeung LALAKI.
PUUN Cikeusik eta PUUN Dua, boga anak jadi SULTAN BANTEN kajeroan kabeh sa incu-incuna ti PUUN BIKANG.
Anak PUUN Cikeusik jadi PUUN Cibeo, jeung PUUN Cikartawana.
PUUN Cibeo boga anak :
1. Nabi Adam, (boga deui putra)
2. Kanjeng Nabi Muhammad.

JADI……
Nabi Adam jeung Nabi Muhammad INCU PUUN CIKEUSIK.
(versi baduy dalam)

Ceuk PUUN Cibeo, ka anakna Kanjeng Nabi Muhammad :
Hayu sia kudu ayeuna ngaramekeun nagara, Kudu ngadegkeun masigit bagoang di Makkah, Kudu make solat Kusban, Ajian, Rewah, Mulud, Tapi ulah campur jeung aing … kudu ngaramekeun Nagara bae …

Ceuk Kanjeng Nabi Muhammad :
Heug …… tapi para buyut kabeh kudu dicekelan ku kaka nyaeta Nabi Adam,
Jadi kaka eta, kudu :
Ngasuh Ratu Ngajaga Menak, Sakurung ning langit, Satangkarak ning lemah nagara, Kudu dicekel para buyutna ku kaka, ku Nabi Adam.

Kesimpulan tadi :
Ibarat demikian, dunia ramai yang profane itu, dengan kesibukan pembangunan dan perkembangan, dengan segala keruwetan, dengan laut, dengan guruh itulah muncul Pulau Kecil,
--- MASYARAKAT BADUY YANG SAKRAL ---
Tempat awal dunia semesta dan tempat awal umat manusia.

Masyarakat kecil ini merasa bertanggung jawab atas keselamatan semua orang yang sibuk berlayar dilautan yang dahsyat itu,
Hubungan mereka dilaut adalah :
Hubungan damai, Hubungan persaudaraan tanpa unsur antagonistik.

Andai orang BADUY / RAWAYAN fasih berbahasa inggris :
--- PLEASE … LEAVE ME ALONE ---

Orang BADUY mengatakan :
Jelema Kanekes Tara Taluk ku Gupernemen,
Artinya :
Orang BADUY bukan mau berontak, mereka mau mempertahankan identitasnya sebagai kelompok dalam hidup masyarakat yang sesuai dengan pandangan religius dan Sosio-Budaya dari mereka sendiri.

KHAS BADUY :
Jampena :
Ngungkung goong sakar gadang, asmara jeung singa jaya, goong sieum dating deui, mangka tetep, mangka langgeng, mangka hurip singa jaya.

Kacara Bangbang
Tapi euweuh nu enggal, cara riweung bae, kubaris kolot, panamping, jaro gupernemen ditangkisan deui kanu boga.

JADI ……
SILI(H)WANGI tidak main peran yang berarti dalam hidup sosio-budaya dan pandangan religius orang Baduy. Hubungan Abdi dengan Pemerintah dan Hubungan Baduy dengan Gupernemen berbeda sekali.

Orang BADUY dan SILIWANGI (5)

Orang BADUY dan SILI(H)WANGI
Sili(h)wangi dikami euweuh tuturunan nana, da …… tuturunan Sili(h)wangi mah aya di Bogor.
Ratu Banten kiranya bukan penguasa orang Baduy, dan Raja-raja Siliwangi bukan karuhun orang Baduy.
Tradisi lisan orang Baduy tidak menuturkan Siliwangi / tentang Siliwangi.

PRABU SILI(H)WANGI
Atau :
Raja Purana, Prabu Guru Dewata Prana, Sri Baduga Maharaja,
Ratu Haji di Pakuan Pajajaran
1474-1513

Siliwangi :
Purwaka Caruban Nagari :
Adalah seorang Raja Agung yang berkuasa di Pakuan Pajajaran.

Bergelar :
Prabu Sili(h)wangi --- putra --- Prabu Angga Larang.
Dari Galuh Wansanja.

Keratonnya :
Surawisesa di tanah Parahyangan sebelah timur.

Siliwangi
Pada kanak-kanak bernama : RADEN MANAH RASA
1. Maha Raja Admulia
2. Maha Raja Galuh Pakuan
3. Prabu Ciung Wanara
4. Sri Ratu Purbasari
5. Sang Lingga Hyang
6. Prabu Lingga Wesi
7. Prabu Wastu Kencana
8. Prabu Susuk Tunggal (mempunyai putri : Ratu Kentring Manik)
9. Prabu Banyak Larang
10. Prabu Banyak Wangi
11. Sang Mundhingkawati
12. Prabu Angga Larang
13. Prabu SILI(H)WANGI


SANG RATU PAJAJARAN
IBU SINUHUN
PRABU SILI(H)WANGI
Punya putra 3 (tiga) :

1. Raden Walangsungsang
Alias :
Pangeran Cakra Buana, Pangeran Cakra Bumi, Prabu Kian Santang, Haji Abdullah Iman, Syeh Duliman.

2. Nyai Lara Santang
Alias :
Nyi Dalem Santang, Rara Santang, Nyai Eling, Syarifah Mudaim.

3. Raja Sangora/Senggara.

Raden Walangsungsang alias Prabu Kian Santang
(ngilari ilmu sarengat --- Islam), mencari ilmu Islam pada Syeh Nurjati seorang pertapa di Bukit Amparan Cirebon (berasal dari Mekkah/Baghdad). Dalam perjalanannya Prabu Kian Santang bertemu seorang Pendeta Budha bernama Danu Warsi dan berguru +/- 1 (satu) bulan pada Resi Danu Warsi.

Prabu Kian Santang, punya adik perempuan Nyai Lara Santang alias Rara Santang, sedih ditinggalkan kakaknya dan kemudian meninggalkan Istana Pajajaran. Dari perjalanannya Rara Santang sampai di Tangkuban Perahu dan bertemu dengan Nyai Sekati, kemudian diberi petunjuk agar menemui pertapa AJAR SASMITA atau Resi Danu Warsi di Gunung Silawung. Lara Santang diganti namanya Nyai Eling, dan diramalkan akan mempunyai anak yang akan menaklukan seisi bumi---langit, yang anaknya akan menjadi WALI.

Akhirnya Lara Santang sampai ke Gunung Merapi dan bertemu dengan kakaknya Raden Walangsungsang alias Prabu Kian Santang di tempat Resi Danu Warsi (Ajar Sasmita).

Pada saat Raden Walangsungsang belajar pada Sang Danu Warsi (Ajar Sasmita), Walangsungsang dinikahkan dengan Putri dari Danu Warsi bernama INDANG GOLIS alias INDAH AYU.

Raden Walangsungsang berganti nama Samdullah pada saat berguru pada Resi Danu Warsi.

Prabu Siliwangi bersedih, karena semua putranya meninggalkan Istana, Prabu memerintahkan para Patih untuk mencari putranya, berkat kesetiaan para Patih dalam mencari putra Prabu Siliwangi hingga akhirnya tidak pernah kembali ke Kerajaan / Istana.

Yang pada akhirnya……
Prabu Siliwangi pun mengetahui kedatangan cucunya bernama Syarief Hidayatullah Sunan Gunung Jati (putra dari Nyi Lara Santang / Rara Santang), ia merasa malu kalau sampai takluk kepada seorang cucunya.

Pusaka Prabu yaitu SEBILAH CIS telah ia ambil dan dibawa ketengah alun alun seraya …… membaca mantera AJI SIKIR.
CIS ditancapkan ke tanah, seketika Negara dan Rakyat Pajajaran lenyap menghantu, tinggal sebuah Balai Raja yang tampak.
Pusaka CIS berubah pula menjadi kayu LIGUNDI HITAM.

Terkena ucapan SYARIEF HIDAYATULLAH SUNAN GUNUNG JATI Orang Pajajaran berubah menjadi sebangsa hantu menjadi HARIMAU …… Selama kayu LIGUNDI HITAM itu tidak di cabut, mereka belum akan kembali menjadi Manusia.

Setelah itu Syarief Hidayatullah Sunan Gunung Jati pergi ke Lebak Sungsang menemui Pangeran Cakra Buana alias Raden Walangsungsang alias Prabu Kian Santang yang sedang bertapa sambil bersawah, Pangeran Cakra Buana diminta pulang ke Cirebon untuk menghadiri pertemuan para Wali (babad cirebon)

Babad Banten (6)

BABAD BANTEN :

1. Nabi Adam
2. Nabi Sis
3. Nabi Yunus
4. Kinayah
5. Malik
6. Pasir
7. Nabi Idris
8. Saleh Lamake
9. Nuhud
10. Asim
11. Paseh
12. Palih
13. Rumi
14. Saro
15. Pakir
16. Najur
17. Nabi Ibrohim
18. Nabi Ismail
19. Sabit
20. Yahyar
21. Yurad
22. Japat
23. Manawi
24. Ubad
25. Malob
26. Ud Al Muhar
27. Galib
28. Asim
29. Abdul Manap
30. Asim
31. Abdul Mutolib
32. Abdullah
33. Nabi Muhammad
34. Fatimah Aj Jahra
35. Husen
36. Zaenul Abidin
37. Zanul Kubra
38. Jumadil Kubra
39. Jumadil Kabir
40. Sultan Bani Israil
41. MAHDUM GUNUNG JATI